Gugelberg

"All grown-ups were once children… but only few of them remember it.” ― Antoine de Saint-Exupéry

Keruji

Ruji –> Jari-jari sepeda

Keruji –> Peristiwa yang tidak disengaja ketika salah satu anggota tubuh (biasanya kaki) masuk ke jari-jari ban sepeda/sepeda motor yang sedang berputar

Pada suatu malam, saya sedang berlari mengelilingi GBK. Saya berlari cukup lambat sambil melihat sekeliling. Saya melihat di depan saya ada 3 orang yang mengendari sepeda tandem untuk 2 orang. Sepeda itu mempunyai 2 sadel dan 2 setang. Pada bagian paling belakang, di atas roda, terdapat boncengan.

Mas1 sebagai pengemudi paling depan. Mbak1 sebagai pengayuh. Mbak2 sebagai pembonceng. Mbak2 meletakkan kakinya pada bagian sepeda seadanya karena pada sepeda tersebut tidak ada jalunya. Sesuatu yang berbahaya dilakukan oleh orang yang jarang melakukannya.

Saya mengamati mereka cukup lama karena lari saya lambat, mata saya awas, telinga saya tajam, dan saya bosan lari sendirian.

sepeda tandem

Kira-kira sepedanya seperti ini –> sumber

Saya masih lari dengan lambat dan melihat mereka tertawa-tawa berusaha menyeimbangkan sepeda.

Mbak2 : Pelan-pelan dong, sakit nih (seperti bisa dilihat dari gambar, boncengannya hanya berupa besi saja)

Mereka sudah mulai bisa stabil dan mulai bergerak. tetapi saya ternyata bisa menyusul mereka. Saya berlari selalu mencoba dari sisi paling luar dan mereka cukup di pinggir sehingga hanya ada sedikit ruang untuk menyalip mereka dari sisi yang lebih luar lagi. Kalau tidak kebayang, bayangkan saya ingin lari di pinggir dan mereka sudah di pinggir, sehingga saya harus lebih minggir lagi. Saya menyalip mereka dari sisi kanan, cukup dekat dengan sepeda tersebut.

Saya masih berlari kecil di samping sepeda dan saya mendengar suara “krak krak krak” (gimana sih suara orang keruji). Saya langsung tahu bahwa itu adalah suara orang keruji karena ada tambahan suara.

Mbak2 : Aduh aduh, sakit banget nih. Aduh aduh.

Saya langsung berhenti dan melayangkan pandangan ke kaki kanan Mbak2. Yup, tumitnya sedikit terkena jari-jari ban sepeda. Mereka berhenti dan bertanya-tanya.

Mas1 : Ada apa?

Mbak22 : Duh, sakit banget nih.

Saya yang merasa tidak akan bisa membantu dan toh Mbak2 sudah ada temannya memutuskan untuk meneruskan berlari. Dalam revolusi saya mengelilingi GBK, saya terus memikirkan “kok bisa lho keruji”. Terakhir saya menyaksikan orang keruji kira-kira 1 windu yang lalu. Saya kira keruji sudah punah.

8 menit xx detik kemudian

Saya sudah kembali ke tempat kejadian dan melihat Mbak2 dan Mbak1 sedang duduk di pinggir. Mbak2 mencopot sepatunya dan sedang memotret kakinya yang terluka. Mbak2 memotret dengan blitz sehingga saya bisa melihat ada darah di tumitnya. Tapi lukanya tidak terlalu parah. Semua saya lihat sambil berlari dengan kecepatan konstan, lambat. Sambil berlari saya jadi berpikir, “Wah, habis ini kalau aku kesana lagi harusnya sudah diobati”.

8 menit xx detik kemudian

Saya kembali ke tempat kejadian dan mendapati Mbak1 dan Mbak2 sudah beranjak pergi. Saya meneruskan lari saya. Karena kurang kerjaan, saya menjadikan topik “kok bisa keruji” sebagai bahasan serius. Dengan cepat saya mendapat salah satu kemungkinannya adalah Mbak2 tersebut jarang membonceng sepeda dan tidak tahu cara meletakkan kaki dengan benar.

Sambil berlari, saya lalu mengulang kembali saat-saat saya menyalip rombongan tersebut. Saya menyadari sesuatu. Coba bayangkan apabila ada seseorang yang akan menyalip Anda dari belakang. Secara tidak sadar, Anda akan menggerakkan tubuh sedikit untuk memberikan ruang sehingga tidak terjadi benturan. Kaki kanan Mbak2 berada di tempat berbahaya dan saya menyalip dari sisi kanan. Ada kemungkinan Mbak2 menggerakkan kakinya sedikit ke kiri untuk menghindari benturan dan berakibat kakinya masuk ke ruji.

Aaaaaaaaaaaaarrrrgh. Saya secara tidak langsung ternyata berkontribusi terhadap kecelakaan yang menimpa Mbak2. Bener-bener seperti Butterfly Effect pada Chaos Theory. Kepakan sayap kupu-kupu di tempat A dapat menyebabkan badai di belahan bumi lainnya. Saya jadi sedikit merasa bersalah.

NB : Mungkin kalian berpikir bahwa saya memikirkan hal yang tidak penting. Saya setuju dan memang itu tujuannya. Lari lambat untuk jarak jauh tanpa mendengarkan musik sangat membosankan sehingga saya perlu otak saya memikirkan hal lain agar tidak lekas lelah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 26/02/2016 by in Uncategorized and tagged , , .
%d bloggers like this: