Gugelberg

"All grown-ups were once children… but only few of them remember it.” ― Antoine de Saint-Exupéry

Copet?

Pada sebuah hari Selasa di bulan Februari 2016, saya bertemu dengan seseorang yang saya curigai sebagai seorang copet, kita sebut saja SC (Suspect Copet). Berbekal pengetahuan saya pada kasus Copet 1, Copet 2, Copet 3, dan Copet 4 maka saya merasa pengamatan saya tidak salah.

FAQ

Dimana kamu ketemu SC?

Di halte Trans Jakarta Semanggi untuk arah ke Grogol

Kapan kamu ketemu SC?

Pada jam pulang kantor, sekitar pukul 18.00

Bagaimana penampilan SC?

Bapak-bapak berusia lebih dari 30an, tinggi badan rata-rata. SC membawa sebuah jaket yang diletakkan di depan dadanya dan tangan terlipat di depan dada. Jaket dibawa sedemikan rupa sehingga tangan tersembunyi di bawah jaket.

Bagaimana suasana halte Semanggi pada saat itu?

Halte Semanggi sedang cukup penuh dan penumpang berkerumun berdiri di depan pintu. Saya sendiri berdiri di samping, tidak ikut mengantri dan melihat orang naik turun Trans Jakarta (TJ) sambil membaca buku.

Mengapa kamu curiga SC adalah copet?

15 menit sudah saya berada di halte Semanggi dan melihat penumpang turun dan naik TJ. Saya melihat SC mengantri pada pintu halte 1 (saya beri nomor biar gampang). TJ berhenti, pintu TJ terbuka, para calon penumpang semakin merapat. Hal ini membuat penumpang yang ingin turun menjadi kesulitan. Penumpang yang turun berusaha mencari celah antar penumpang untuk bisa keluar dari kerumunan, disinilah SC bekerja. SC menghalang-halangi penumpang yang ingin turun dengan “berusaha” untuk masuk. Setelah beberapa saat terjadi dorong mendorong, penumpang yang turun pun terbebas dari kerumunan dan beberapa calon penumpang asli sudah masuk ke TJ. TJ pun melanjutkan perjalanan. SC sudah sampai di posisi yang cukup baik apabila ada TJ  lagi yang datang. Tiba-tiba SC mundur dan keluar dari kerumunan. Proses di atas diulang beberapa kali. Hal tersebut membuat saya curiga bahwa sebenarnya SC ini tidak benar-benar ingin naik TJ.

Apa yang kamu lakukan?

Saya yang sedang tidak terburu-buru dan tidak agenda akhirnya memutuskan untuk mengamati SC. Saya mencoba untuk tidak menatap terlalu lama karena akan membuat SC merasa diamati.

Bagaimana hasil pengamatan?

SC pindah ke pintu halte 2. Saya mengamati dari antara pintu halte 1 dan pintu halte 2. Dia merapikan posisi jaket di depan dada dan menyembunyikan tangan di bawah jaket. SC masuk ke kerumunan dan menunggu TJ berhenti. Satu TJ berhentii, terjadi dorong mendorong, tapi tidak ada apa-apa. Saya merasa terlalu lama menatap akhirnya mengklamufasekan dengan membaca buku “The Jungle Book” di HP. Berhenti TJ berikutnya. Saya mengamati SC  dengan seksama, melihat sekilas ke HP dan menunggu penumpang turun untuk lebih mengamati action saat SC beraksi. Tiba-tiba mata saya tertuju pada sesuatu yang menarik, kata mule di HP saya. Dalam hati saya bertanya, “mule apaan ya?”. Saya lalu membuka browser dan menemukan bahwa mule adalah hewan hasil perkawinan kuda dengan keledai. Saya mendengar bapak-bapak berteriak.

Korban : Copet! Ada copet disini! (sambil memegang orang dibelakangnya)

Saya dalam hati : SIAL!!!!!! Gara-gara mule!!!!

Kita sebut saja orang ini Tiba-tiba Suspect Copet (TTSC). Gaya TTSC ini sama seperti SC, tangan di depan dada dan ditutupi dengan jaket.

Korban : (sambil membuka jaket dan memegan tangan TTSC) Kamu copet ya!

TTSC : Apaan sih.

Korban : Ada copet disini! HP saya hilang. Ada copet! (sambil menepuk kantung di baju dan celana dia sendiri)

Mbak-mbak : Ini Pak, HPnya jatuh (sambil memberikan ke Korban)

Korban mengambil HP dan pergi dari tempat tersebut. TTSC lalu mengenakan jaketnya dengan cara normal. Kekacauan pun berakhir. Saat kekacauan terjadi, saya masih mengamati SC dan dia masih tidak naik ke TJ.

Saya memutuskan untuk tidak terdistraksi lagi dan mengamati SC dengan seksama. Setelah 1 TJ lagi datang dan kerumunan tidak sekacau sebelumnya, SC (yang sudah di depan pintu halte) mundur lagi dan mengenakan jaketnya dengan normal. Ketika TJ berikutnya datang, dia dengan mudah naik ke TJ tersebut.

Jadi menurutmu apa yang terjadi waktu terjadi pencopetan?

Menurutku sih memang benar ada copet dan karena korban sadar, sehingga barang copetan dibuang.

Menurutmu siapa copetnya?

Menurut saya SC dan TTSC adalah copet. Berdasarkan hasil pertemuan saya dengan copet-copet sebelumnya, mereka bekerja berkelompok.

Seberapa yakin kamu mereka adalah copet?

70-80%.

Mengapa SC memutuskan pergi?

Halte Semanggi sudah tidak terlalu ramai dan orang-orang yang berada di sana cukup waspada setelah terjadi “pencopetan” sebelumnya. Hal tersebut membuat kemungkinan SC untuk beraksi lebih sulit.

Apa saranmu agar kejadian ini tidak terulang?

Selain cara-cara normal seperti menjaga barang-barang, selalu waspada dan tidak “memamerkan” barang-barang, cara yang cukup efektif adalah bila semua penumpang bisa mengantri. Apabila semua orang mengantri dengan tertib, tidak akan ada kerumunan yang bisa digunakan copet untuk beraksi. Mengantri dengan tertib juga akan membuat orang lebih nyaman naik TJ. Cara lainnya adalah dengan membuat pintu halte untuk turun dan naik penumpang berbeda sehingga pergerakan penumpang searah.

Semua hal di atas berdasar pengalaman pribadi, apabila ada kesalahan saya mohon maaf.

Semoga post ini bisa membantu.

 

 

 

 

 

 

 

 

One comment on “Copet?

  1. Pingback: CORO: Sebuah Laporan Kejadian Perkara | Bagus Farisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: