Gugelberg

"All grown-ups were once children… but only few of them remember it.” ― Antoine de Saint-Exupéry

Uang

Pada 22.00 WIB 29 April 2014, saya baru saja bermain badminton di Pasar Festival (Kuningan). Saya ingin kembali ke kos menggunakan bus Trans Jakarta. Saya masuk ke halte Gor Sumantri.  Saya sudah membayar tiket bus dan  sudah masuk ke ruang tunggu penumpang. Karena antrian cukup banyak, saya duduk dan menunggu sambil berselancar. Kira-kira sudah 20 menit saya duduk, tiba-tiba datang seorang bapak-bapak. Saat itu ada 3 orang yang duduk di kursi, Mbak A – Saya – Mbak B.

Bapak-bapak (C) bertanya kepada mbak A :

Bapak C : Bisa tuker uang gak? Saya mau beli tiket tapi gak ada uang kembaliannya. (sambil menunjukkan uang 100 ribu rupiah)

Mbak A : Wah gak ada Pak.

Saya yang mendengar percakapan tersebut menoleh dan memperhatikan mereka berdua. Bapak tersebut melihat saya dan bertanya

Bapak C : Bisa tuker uang gak mas? Uang saya cuma 2 ribu. Mau beli tiket tapi gak ada kembaliannya

Bapak tersebut menunjukkan uang 100ribu rupiah. Saya lihat di tangan bapak tersebut tersebut ada uang 2 ribu dan 100 ribu rupiah sebanyak minimal 5 lembar.

Saya merasa ada yang aneh dengan Bapak C ini.

Saya : Wah, gak ada Pak. Pakai ini saja Pak. (sambil menyerahkan uang 5 ribu rupiah)

Bapak C : Wah, gak usah. Gak enak.

Saya : Gak ada Pak kalau mau tuker. (sambil memperlihatkan uang di saku saya)

Bapak tersebut akhirnya mengulangi permintaannya pada Mbak B.

Bapak C : Bisa tuker uang gak? Uang saya cuma 2 ribu. Mau beli tiket tapi gak ada kembaliannya. Sudah 2 hari gak ada gak ada kembalian

Mbak B : Wah gak ada Pak. (pergi ke arah temannya)

Setelah 10 detik diam, Bapak C pergi keluar dari tempat tunggu penumpang.

Saya merasa ada yang aneh dengan Bapak C. Saya bahkan sampai mencurigai dia sebagai pengedar uang palsu. Berikut beberapa hal aneh yang saya amati :

  1. Bapak C membawa uang minimal 500ribu dan 2 ribu. Tapi uang tersebut tidak dimasukkan ke dalam dompet tapi malah dibawa-bawa. Jika orang ingin menukar uang, biasanya yang dikeluarkan dari dompet cukup 100ribu dan 2 ribu saja.
  2. Untuk bisa masuk ke dalam ruang tunggu penumpang diwajibkan untuk membeli tiket terlebih dahulu. Bapak C bisa masuk tanpa membeli tiket itu sudah merupakan hal yang aneh. Ada 2 hal yang mungkin, penjaga halte sudah kenal dengan bapak tersebut atau bapak C sudah membeli tiket.
  3. Saya tidak percaya loket penjualan tiket pada jam 22.00 (jam akhir operasional) tidak mempunyai uang kembalian yang cukup.
  4. Setelah bapak C keluar dari ruang tunggu, beliau tidak kembali lagi. Saya jadi ragu apakah benar Bapak C ingin naik Trans Jakarta.

Mungkin saya terlalu berlebihan dan terlalu mencurigai orang. Mungkin beberapa hal aneh yang saya amati hanya karena saya paranoid saja. Semoga saya tidak akan melihat bapak C di tempat yang sama berusaha menukarkan uang 100ribu lagi.

Tips ini bisa digunakan untuk mengetahui perbedaan uang asli dan palsu.

4 comments on “Uang

  1. Fuad Fajri
    30/04/2014

    jadi Bapak A tuh siapa gel? *jengjeng* *musikseram*

    • gugelberg
      30/04/2014

      Jreng-jreng….. akan saya edit, terima kasih untuk koreksinya

  2. langitlembayung
    30/04/2014

    kalau mbak A dan mbak B, sempat kenalan g?

    • gugelberg
      30/04/2014

      Wah saya gak tw mereka sempet kenalan atau enggak. Cuman saya kemarin fokus berselanjar jadi gak sempet kenalan ama mbak A dan Mbak B

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 30/04/2014 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: