Gugelberg

"All grown-ups were once children… but only few of them remember it.” ― Antoine de Saint-Exupéry

“Dipalak”

Kemarin. saya dan seorang teman dalam perjalan pulang ke kosan setelah pulang kerja. Dari kejauhan kami melihat beberapa anak-anak bermain kembang api. Sampailah kami di depan kos kami. Beberapa anak (maksimal SMP tetapi sepertinya SD) bermain di depan kos kami.

Saya melihat sebuah benda yang mengeluarkan cahaya di seberang kos saya. Benda itu berkelap-kelip di atas pagar. Saya yang tidak terlalu tertarik pada kembang api, kembali fokus pada HP saya. Teman saya sedang berusaha membuka pintu gerbang kosan yang digembok. TIba-tiba, terdengar suara DUAAAAAAR (capslock untuk menunjukkan kerasnya suaranya). Saya terkejut. Kembang api tersebut ternyata petasan.

Tiba-tiba hal yang tidak terduga terjadi.  Seorang bocah mendatangi kami dan berkata “Om, Lebaran Om. THR Om. Bagi THR nya”. Awalnya saya berpikir bahwa anak tersebut bercanda tetapi bocah itu kembali berkata ” THR Om, THR “. Kali ini perkataan anak tersebut sudah sangat tidak mengenakkan. Bener-bener nada orang malak. Saya hanya diam selama dia berbicara. Saya hanya berharap teman saya cepat membuka pintu gerbang sehingga saya bisa menghindari mereka.

Akhirnya pintu pun terbuka. Teman dari bocah itu mendekati bocah itu sambil (bercanda) menjambak rambut si bocah dan berkata “jangan kayak gitu”. Jambak-jambakan dan ucapan yang tidak bisa saya ingat berlangsung beberapa detik sampai akhirnya hal yang tidak saya duga kembali terjadi. Bocah itu menangis. Kira-kira perasaan saya bisa diwakili dengan emot ini -__-”

Saya dan teman saya masuk ke kosan, mengunci pintu gerbang sambil melihat anak tersebut menangis. Saya masih tidak habis pikir bagaimana bisa seorang anak bisa meminta “THR” kepada orang asing yang tidak dia kenal. Anak yang berani meminta dengan cara yang agak kasar tetapi masih menangis (nangisnya masih seperti anak-anak pada umumnya). Saya tahu bahwa uang yang mereka dapatkan akan dibakar dalam bentuk petasan. Semoga masa depan mereka cerah.

NB : Yang paling membuat saya heran adalah mereka memanggil saya dengan “Om”. Saya masih muda wooiiiii. Saya masih berharap dipanggil “Kak” atau “Bang”.

6 comments on ““Dipalak”

  1. ridlo
    14/08/2013

    pernah mengalami hal yang sm.. :v

    • gugelberg
      14/08/2013

      sama bocah tidak dikenal juga dipalaknya?

  2. Alfan Nur Fauzan
    14/08/2013

    gak iso dipungkiri nek sampean ancen wis tuwo om..

    • gugelberg
      14/08/2013

      Muka ku masih kek anak SMA… masih cocok jadi idola remaja

  3. Muhammad Ilham Maulana
    15/08/2013

    lucu mas, cah cilik sing wani tenan iku

    • gugelberg
      16/08/2013

      anak kecil nya sama sekali gak lucu. kecil-kecil udah begitu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 13/08/2013 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: