Gugelberg

"All grown-ups were once children… but only few of them remember it.” ― Antoine de Saint-Exupéry

Copet 4

Sampai saat ini (dan semoga seterusnya) kawanan copet terakhir yang saya temui. Peristiwa ini terjadi di bus jurusan Semarang-Solo saat saya masih kelas 3 SMA. Setelah pertemuan saya dengan Copet 1Copet 2, dan Copet 3 saya semakin ahli mengenali kawanan copet yang beroperasi di bus Semarang-Solo.

Pada perjalan saya dari Semarang menuju Solo, beberapa orang naik bus ketika bus berhenti di daerah Boyolali. Saya melihat mereka cocok dengan ciri-ciri copet yang telah saya tulis. Bus cenderung kosong dan mereka tetap berdiri dengan 2 orang di dekat pintu keluar bus dan 1 orang di tengah-tengah bus.

Akhirnya sampailah saya ke tujuan saya, Terminal Kartasura. Meskipun dengan membawa tas besar, saya dapat lolos dengan cepat dan mudah (efek sudah terlalu sering atau saya salah sangka). Saya pun ingin memastikan bahwa prasangka saya benar bahwa mereka adalah sekelompok copet. Saya turun dari bus namun tidak berdiri terlalu jauh dari bus. Saya mengawasi penumpang yang sedang berusaha turun dan gerombolan tersebut.

Dari luar bus, saya dapat mengamati bahwa benar 2 orang yang berdiri di dekat pintu keluar menghalang-halangi penumpang yang ingin keluar. Seolah-olah mereka orang-orang yang dari luar bus dan ingin naik sehingga banyak penumpang stuck di dekat pintu keluar. Pencopet yang ada di tengah bus seolah-olah ingin keluar dari bus (dengan cepat) sehingga mendorong-dorong orang di depannya. Dan dengan cekatan, tangan pencopet membuka dan mencari barang-barang di tas seorang mbak-mbak yang membawa tas punggung. Hal ini berlangsung cukup lama.

Akhirnya semua penumpang turun dan gerombolan copet tadi tetap duduk di bus, termasuk orang yang berpura-pura untuk turun tadi. Saya MELIHAT semua proses tersebut. Saya cukup bangga bahwa saya sudah bisa mengidentifikasi pencopet dengan cukup baik. Lalu bus pun berjalan lagi.

Saya tersadar dan bertanya pada diri sendiri, “lha kok aku meneng wae?”                     –> Lha kok saya diam saja

Diri sendiri bertanya balik, “apa yang bisa kamu lakukan?”

TAMAT

NB : Saya berharap ini merupakan pertemuan terakhir saya dengan pencopet. Saya minta maaf kepada mbak-mbak yang tasnya diacak-acak oleh pencopet, maaf saya tidak melakukan apapun dan hanya melihat saja.

2 comments on “Copet 4

  1. ridlo
    01/07/2013

    yg kepikiran:
    – situ teriak.. (walaupun gk kebayang suaramu kyk apa.. kyakakak)
    – foto.. ambil gambar yg jelas dan fotogenik, kasih ke polisi.. :v
    – situ belajar bela diri.. ato kemana2 bawa gebuk maling ren.. wkwk
    – latihan nyopet, ntar kalo liat gt copet balik aja si pencopetnya,,😀

    • gugelberg
      01/07/2013

      -teriak = copet nya banyak dan pasti banyak temannya (suaraku merdu)
      -foto = jaman sma, kamera ber-HP masih mahal
      -sedang belajar bela diri, udah baca kungfu boy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 01/07/2013 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: